.

.

Monday, May 9, 2011

All About 'Hikikomori' (by Ota-mega)

Sources : Berbagai macam situs, buku dan anime yang berkaitan dengan Hikikomori.
    Pernah ndenger kata Hikikomori ngga?! Tau artinya ngga?? kalo ngga tau, kebetulan pada posting ini, saiah akan membahas segala hal tentang Hikikomori. Silahkan lanjutkan membaca postingan kali ini...

-Pengertian-

    Menurut pandangan saiah, Hikikomori adalah keadaan dimana seseorang menarik diri/ mengurung diri/ membatasi diri dari pergaulan sosial. Para Hikikomori ini mengurung diri mereka di kamar selama berhari-hari, bahkan bertahun-tahun dan jarang sekali keluar kamar apalagi keluar rumah. Tingkat interaksi mereka terhadap sesama secara nyata sangat jarang terjadi pada kesehariannya, mereka biasanya hanya berinteraksi melalui dunia maya (internet). Aktivitas yang dilakukan hikikomori saat berada dalam kamar adalah bermain game (entah itu game konsol atau handheld) atau menonton TV (kebanyakan yg mereka tonton adalah tayangan anime).

-Penjelasan-

    Fenomena ini terjadi pertama kali di Jepang (saiah tidak mengetahui tahun berapa dimulainya fenomena ini, namun diperkirakan terjadi saat mulai memboomingnya anime dan game di Jepang sana). Umur para pengidap ini biasanya berusia 13-15 tahun dan kebanyakan dari pengidap sindrom ini adalah kaum laki-laki, karena pada saat remajalah biasanya terjadi pergolakan batin pada jiwa mereka. Sebab pasti para remaja Jepang melakukan  sindrom 'ngamar'(menjadi hikikomori) ini tidak diketahui dengan jelas, namun beberapa faktor seperti school bullying(kekerasan dan pelecehan saat di sekolah), pandangan masyarakat Jepang yang mencap Otaku sebagai sesuatu keanehan dalam masyarakatnya, Tekanan akademik di sekolah, boomingnya Anime dan game di Jepang merupakan faktor utama yang menyebabkan terbentuknya jiwa-jiwa Hikikomori.

Pada faktor school bullying, para Hikikomori terlahir dari peristiwa yg tak mengenakkan karena seringnya mereka menerima perlakuan tak senonoh dari para senior maupun teman sekelasnya. Pengecapan label buruk pada para Otaku membuat keadaan nonproduktivitasnya Otaku semakin memburuk ketika mereka berubah menjadi Hikikomori. Tekanan akademik yg sangat berat membuat sebagian remaja menjadi lelah menghadapi kesehariannya dan lebih memilih untuk diam dirumah ketimbang menjalani kehidupan pelajar yang mengharuskan mereka sekolah dari pagi hingga sore dan dilanjutkan dengan kursus atau les privat sebagai persiapan masuk ke universitas dan semua itu dilakukan hampir selama 7 hari dalam seminggu. Pengaruh maraknya anime dan game adalah salah satu hal yang paling mempengaruhi pertambahan jiwa-jiwa Hikikomori di Jepang sana. Kenapa?! Pengaruh kedua hal inilah yang membuat banyak dari remaja Jepang menjadi seorang Otaku. Ketika mereka menjadi Otaku, mereka pastinya akan merasakan 'pandangan miring' masyarakat dan orang sekitar akan keberadaan mereka. Hal itu akan membuat para Otaku ini semakin tertekan dalam menjalani kehidupan sosial mereka sehari-hari. Mereka akan mulai membanding-bandingkan kenyamanan mereka antara hidup di dunia nyata atau dalam dunia fantasi (Anime). Saat mereka menjadi Otaku, kebanyakan dari para otaku pastinya menghabiskan waktunya untuk menekuni hobbynya (entah itu nonton anime, mbaca manga, ato maen game). Hal ini pastinya akan mengurangi waktu mereka untuk belajar sehingga berakibat pada menurunnya prestasi dan produktivitas mereka, pada akhirnya hal itulah yang akan membuat masyarakat dan orang sekitar mereka menganggap keberadaan mereka layaknya 'keledai pada kumpulan kuda'(orang aneh yang berbeda pada orang kebanyakan). Selain itu, mereka adalah pemicu bertambahnya orang-orang yang terkategorikan sebagai "NEET", (akronim dari kata "Not in Employment, Education, or Training") yaitu pengangguran yang memiliki sikap Hikikomori.

-Contoh karakter dengan sikap Hikikomori dalam fiksi -

- Tatsuhiro Sato (Karakter pada Anime, Manga dan Light Novel "NHK ni Yokoso!" / "Welcome to NHK!")
Sato digambarkan sebagai Hikikomori sejati. Namun seiring jalannya  cerita, ia mencoba mengubah jalan hidup yang dipikirnya selama ini telah disia-siakannya. Ia berusaha keras mencari pekerjaan yang cocok dengan sifat Hikikomorinya namun tetap gagal. Sikapnya terhadap dunia perlahan berubah saat bertemu dengan Nakahara Misaki. Misakilah yang membuat Sato kembali mau bersosial pada masyarakat.
Tatsuhiro Sato From NHK ni Yokoso
- Sanzenin Nagi (Karakter pada Anime dan Manga "Hayate no Gotoku" / "Hayate the Combat Butler")
Di kategorikan sebagai Hikikomori karena kemampuan sosialnya cukup parah dan sering mengurung diri di rumah. Hal ini dikarenakan statusnya sebagai anak orang kaya yang sering dijadikan target penculikan sehingga membuatnya enggan keluar rumah dan lebih memilih main game atau menonton anime.



Sanzenin Nagi from Hayate no Gotoku!
- Yadomi Jinta (Karakter pada Anime "Ano Hi Mita Hana no Namae o Bokutachi wa Mada Shiranai" / "We Still Don't Know the Name of the Flower We Saw That Day")
    Jinta berubah menjadi Hikikomori dikarenakan ia merasa bersalah ketika waktu kecil ia mengatakan 'mengapa aku harus mencintai seseorang yang aneh' pada saat ditanya Tsuruko mengenai perasaannya terhadap Menma. Jintan kemudian hendak meminta maaf, namun sayangnya hal itu tak kesampaian karena Menma telah meninggal keesokan harinya. Ia pun kehilangan semangat untuk bersekolah dan bergaul dimasyarakat setelah kejadian tersebut, seakan-akan ia mencoba menghukum dan menyalahkan dirinya akan kejadian tadi.
Yadomi Jinta from Ano Hi Mita Hana no Namae o Bokutachi wa Mada Shiranai
-Kesimpulan-

    Gejala mengurung diri dan membatasi kontak sosial yang terjadi pertama kali di Jepang ini kebanyakannya menimpa anak laki-laki berumur 13-15 tahun ini tidak diketahui sebab pastinya, namun kebanyakan pemicunya karena school bullying dan kepenatan dalam menjalani kehidupan berat sebagai pelajar. Para Hikikomori ini dianggap sebagai benalu dalam keluarga bagi masyarakat sekitarnya
  
-Comment by Post Writer of this topic-

    Menjadi Hikikomori menurut saiah adalah suatu status yang mempermalukan diri sendiri sebagai manusia. Memang, kalau diperhatikan perlakuan orang sekitar yang kadang menjadi pendorong utama yang membuat diri kita menjadi seorang Hikikomori. Namun, jika saja kita dapat bertahan atau kalau perlu melawan perlakuan tidak senonoh mereka maka kita tak akan terjerumus dengan status Hikikomori yang memalukan seperti itu. Apa ngga malu menjadi benalu dalam keluarga? Orang tua udah cape-cape kerja, eeh dia malah enak-enakan ongkang-ongkang kaki dalam kamar sambil nonton anime.

-In the end-

    That's it! After all, saiah meminta maaf atas kurang mendalamnya pembahasan saiah pada topik ini, karena ini pembahasan ini hanyalah sebatas sudut pandang dari saiah semata yang saiah simpulkan sendiri dari berbagai sumber. Dan saiah juga meminta maaf apabila ada orang-orang yang merasa tersinggung atas pembahasan saiah ini, saiah hanya membahas masalah ini tanpa ada maksud untuk menyindir / menyinggung pihak-pihak tertentu.

    Jika ada saran ato kritik, feel free to give us comments!! Ja nee!

3 comments: